CHAT Via WhatsApp

Kumpulan Artikel - Artikel Tentang Perumahan

diposkan pada : 24-12-2020 10:09:44

PENDUDUK Kota Delta, Sidoarjo, semakin melimpah ruah. Jumlahnya telah mencapai sekitar 2,3 juta jiwa. Warga urban pun terus berdatangan. Perlu hunian yang layak.

Posisi Kabupaten Sidoarjo dinilai strategis dari sisi geografis. Upah pekerja pun tergolong tinggi. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Agoes Boedi Tjahjono menyebut Kota Delta ibarat magnet. Kuat menarik pendatang buat tempat tinggal maupun investor untuk menanamkan modal.

Banyak yang bekerja di Surabaya, tetapi memilih tinggal di Sidoarjo. Alasannya, harga rumah di Sidoarjo masih terjangkau. ’’Di Surabaya, harga rumah sudah tinggi,’’ ucapnya.

Permintaan hunian di Kota Delta pun begitu tinggi. Terjadi ledakan jumlah perumahan. Pertumbuhan perumahan pernah mencapai 7 persen. Dari data Pemkab Sidoarjo, jumlah hunian kini mencapai 597 perumahan. Lokasinya tersebar di 15 kecamatan.

Namun, dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan perumahan mulai tersendat. Kendalanya, pengembang semakin sulit mencari lahan. Keterbatasan lahan berdampak lain. Pengembang sulit mendapatkan tanah dengan harga murah. Berikutnya, pembeli yang harus menanggung risikonya. Semakin susah mencari rumah murah. Boleh dikata, tidak ada lagi rumah murah.

Agoes mencontohkan, di wilayah perkotaan, harga rumah minimal Rp 500 jutaan. Di wilayah pinggiran, paling rendah Rp 350 jutaan. Sebagai solusi, Pemkab Sidoarjo mengeluarkan aturan baru. Yaitu, Perbup No 59 Tahun 2018.

Isinya mengatur batas minimal luas rumah di Sidoarjo. Semula, luas minimal 90 meter persegi. Dengan aturan baru tersebut, luas rumah sekarang boleh 72 meter persegi.

Menurut Agoes, pemkab sangat diuntungkan dengan pembangunan perumahan. Perkembangan kota semakin cepat. Pertumbuhan ekonomi terpacu. Ke depan pemkab sudah menyiapkan lahan perumahan di wilayah baru. Yakni, di Kecamatan Sukodono dan Tarik.

Di sisi lain, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) terus meningkat. Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Sidoarjo mencatat, hingga semester I 2019, ada 96 developer yang bekerja sama dengan BTN. ”Periode yang sama tahun lalu, jumlah pengembang 74,” kata Kepala Kredit Konsumer BTN Cabang Sidoarjo I Made Yogie Dharma Yusa. Realisasi penerimaan KPR melonjak. ”Naik 16 persen,” ujarnya.

Jenis KPR yang diterima adalah nonsubsidi. Untuk KPR bersubsidi, lanjut Yogie, di Sidoarjo tidak ada. Sebab, harga penjualan rumah tak lagi murah. Minimal, pembeli dapat menemukan nilai jual terendah mulai Rp 380 juta. ”Bisa ditemukan di daerah Tulangan, Wonoayu, dan Krian,” katanya. ”Syarat beli rumah KPR bersubsidi harus di bawah Rp 140 juta,” tambahnya. 

Awas, Tanah Masih DP, tapi Sudah Dijual

Problem Problem sulitnya rumah murah ternyata dimanfaatkan untuk modus kejahatan. Ketua Realestate Indonesia (REI) Sidoarjo Susilo Effendy meminta para konsumen teliti sebelum membeli. Harus lebih hati-hati. Sebab, ditengarai ada sekitar 60 sampai 70 persen pengembang abal-abal.

”Kalau tidak jelas pengembangnya, tanya saja ke REI,” ujar Susilo yang juga ketua bidang advokasi REI Jatim.

Di Jawa Timur, lanjut dia, REI menerima banyak laporan tentang pengembang nakal. Terutama penjual tanah kavling. Banyak sekali kasusnya. Mereka bukan anggota Apersi atau REI. ”Tidak terdaftar, liar,” katanya.

Susilo membuktikan fenomena itu saat berkeliling ke 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Banyak sekali brosur dan umbul-umbul penawaran perumahan atau tanah kavling murah. Iming-imingnya menggiurkan. Dari harga rendah sampai hadiah melimpah.

Mengapa nakal? Pengembang abal-abal nekat menawarkan lahan meski melanggar peruntukan tata ruang. Misalnya, seharusnya lahan untuk sawah, tapi dibuat perumahan.

Memang, terang Susilo, di Sidoarjo ada Perbup No 35 Tahun 2015 tentang Real Tapak. Itu ditujukan untuk pengembang yang rumahnya sudah jadi. Belum ada izinnya, tapi sudah dihuni. Istilahnya, ada aturan pemutihan. Jadi, warganya masih bisa mendapatkan izin jika mengurusnya. Namun, itu hanya untuk sebelum 2015.

”Sekarang sudah tidak bisa lagi,” katanya. Jika tidak sesuai peruntukan, itu berarti melanggar aturan. Pengembang nakal berjualan tidak sesuai ketentuan. Mungkin benar ada rumahnya, tapi izinnya tidak ada.

”Sertifikat tanah mungkin ada, tapi IMB-nya tidak ada,” katanya. Bisa jadi seperti itu. Jika ingin aman, pembeli rumah harus pegang IMB dan sertifikat tanah. Dua itu merupakan bukti.

Karena abal-abal itu, akhirnya banyak penipuan. Misalnya, ternyata lahan perumahan belum dibebaskan. ”Tanahnya masih di-DP, eh sudah dijual investor. Akhirnya, investornya kabur,” katanya. Akhirnya, jadi kasus.

Tawaran Menggiurkan, Ternyata Penipuan

Peringatan REI Sidoarjo diperkuat laporan kasus penipuan perumahan dan lahan kavling yang masuk ke kepolisian. Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol Ali Purnomo juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap tawaran rumah murah. Jangan sampai niat membangun rumah justru berbuah masalah.

”Hati-hati. Jangan asal pilih tawaran rumah yang murah,” katanya kemarin (18/8).

Satreskrim sudah beberapa kali mengungkap perkara penggelapan yang berkaitan dengan properti. Kasus terakhir adalah laporan customer Perumahan The Mustika Garden. ”Ada satu orang tersangka,” katanya.

Namanya Muhammad Fattah. Pemuda 27 tahun itu menawarkan tanah kavling di Desa Pepe, Sedati. Fattah berkoar tanah tersebut bakal dikembangkan menjadi perumahan. Dikelola PT Alisa Zola Sejahtera dan ditawarkan sejak 2015.

Fattah menjual rumah dengan harga hanya Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jauh di bawah pasaran properti umumnya. Dia memberikan iming-iming status hak milik. Diklaim juga semua perizinan sudah lengkap. ”Yang belum punya rumah gelap mata dengan tawaran itu,” ujar Ali.

Habis dibayar, tersangka menghilang. Jumlah korbannya 28 orang. Tanah yang ditawarkan bukan miliknya. Fattah hanya mengarang cerita.

Bagaimana mewaspadai penipuan? Harus mengecek latar belakang pengembang dan menanyakan keabsahan status tanah ke perangkat desa setempat. Sebab, sudah banyak kasus terkait penipuan properti tersebut.